Do Our Questions Seek Truth or Avoid It?
Welcome to Day 294 of our journey with Jesus. Today, we consider what Jesus calls us to question in our beliefs or lives. The main truth for today is this: Questions about Jesus can become a way to avoid the truth if we refuse to consider evidence honestly. Let’s begin.
Rincian perjalanan saat iniView the calendar, Episode and passage
Jesus in Action
Mark 11:27–12:12
Step 4 of 5
- Hari 291 Berjumpa
- Hari 292 Dengarkan
- Hari 293 Temukan
- Hari 294 Periksa diri Anda berada di sini
-
Hari 295 Tanggapi Selanjutnya
Periksa keyakinan atau kehidupan kita yang Yesus ajak untuk kita pertanyakan.
Waktu Yesus dan murid-murid-Nya sudah tiba di Yerusalem dan Dia sedang berjalan mengelilingi teras rumah Allah, para imam kepala, ahli Taurat, dan pemimpin Yahudi datang kepada-Nya. Mereka bertanya, “Siapa yang memberikan wewenang kepadamu untuk mengajar dan mengubah kebiasaan kami?— seperti yang kamu lakukan kemarin! Atas nama siapa kamu melakukan itu?” Jawab Yesus: Aku juga mau menanyakan sesuatu kepada kalian. Kalau kalian menjawab-Ku, maka Aku akan memberitahukan Siapa yang memberikan wewenang itu kepada-Ku. Coba jawab pertanyaan-Ku ini: Dari mana Yohanes Pembaptis mendapatkan wewenang untuk membaptis orang-orang? Apakah Allah yang memberikannya, atau dia melakukan atas kemauannya sendiri? Lalu mereka berunding satu sama lain, “Kalau kita menjawab ‘Allah yang memberikannya,’ nanti Yesus akan menyerang balik, ‘Kalau begitu, kenapa kalian tidak percaya kepada Yohanes?’ Tetapi kalau kita jawab, ‘Yohanes bekerja atas kemauannya sendiri,’ nanti orang banyak ini akan marah kepada kita!” Akhirnya mereka menjawab, “Kami tidak tahu.” Mereka berkata begitu karena takut kepada orang banyak, sebab semua orang yang berkumpul di situ percaya bahwa Yohanes adalah nabi. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Kalau begitu, Aku juga tidak akan mengatakan kepada kalian siapa yang memberi-Ku wewenang untuk melakukan tindakan seperti kemarin.” Lalu Yesus mulai berbicara kepada pemimpin-pemimpin agama Yahudi itu dengan beberapa perumpamaan. Inilah salah satunya: Ada seorang pemilik tanah yang menyuruh hamba-hambanya membuat kebun anggur, lengkap dengan pagar di sekelilingnya. Lalu mereka menggali lubang tempat memeras buah anggur serta membangun pondok jaga yang tinggi untuk mengawasi kebun itu. Sesudah semuanya selesai, dia menyewakan kebun anggur itu kepada beberapa orang petani, lalu pergi ke negeri lain bersama para hambanya. Waktu musim panen tiba, dia menyuruh seorang hambanya pergi kepada petani-petani itu untuk menagih hasil penjualan anggur yang menjadi bagiannya. Tetapi para petani itu menangkap dan memukuli hambanya, lalu menyuruh dia pulang dengan tangan kosong. Kemudian pemilik kebun itu menyuruh hambanya yang lain pergi kepada mereka. Tetapi mereka mencaci maki dia dan melempari kepalanya dengan batu sampai terluka. Sekali lagi pemilik kebun itu menyuruh seorang hambanya yang lain. Tetapi mereka membunuh dia. Begitulah seterusnya para petani itu memperlakukan setiap hamba yang datang menagih hasil kebun itu. Ada yang dipukul, ada juga yang dibunuh. Akhirnya tidak ada lagi yang bisa disuruh oleh pemilik kebun itu, kecuali anaknya satu-satunya yang sangat dia kasihi. Maka dia menyuruh anaknya pergi karena dia pikir, “Tentu mereka akan menghormati anakku sendiri.” Tetapi waktu melihat anak itu datang, mereka berkata satu sama lain, “Lihat! Yang datang ini adalah anaknya sendiri. Dialah yang nanti menjadi pemilik kebun ini kalau bapaknya sudah meninggal. Mari kita bunuh dia, supaya kebun ini menjadi milik kita.” Jadi mereka menangkap dan membunuh dia, lalu membuang mayatnya keluar dari kebun itu. Nah, coba kalian pikir: Kalau sudah begitu, apa yang akan dilakukan oleh pemilik kebun? Tentu dia sendiri yang akan datang dan membinasakan para petani itu, lalu menyewakan kebunnya kepada petani-petani lain. Kalian sudah membaca Firman Allah, bukan? Karena ada tertulis: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan, sudah dijadikan Allah sebagai batu fondasi utama. Apa yang Allah lakukan itu sangat mengherankan bagi kita. Pemimpin-pemimpin Yahudi yang sedang mendengarkan perumpamaan itu tahu bahwa merekalah yang dimaksud Yesus sebagai petani-petani yang jahat. Karena itu mereka mencari cara untuk menangkap Yesus, tetapi mereka takut kepada orang banyak yang juga hadir di situ. Jadi mereka pergi meninggalkan Dia.
© 2014-2025 oleh Yayasan Alkitab Bahasa Kita (Albata) dan Pioneer Bible Translators International
After seeing Jesus identify Himself within God’s rejected yet victorious purpose, today we confront the supposed neutrality of endless questioning.
Questions can be sincere, necessary, and courageous. Jesus Himself asks questions. The problem in this encounter is not inquiry but the refusal to answer honestly when the evidence threatens a preferred position.
They Calculate Instead of Answering.
The leaders ask about authority, yet when Jesus asks about John, they discuss what each possible answer will cost them. Their concern is not simply what is true.
I Do Not Know Can Become a Shelter.
Sometimes uncertainty is genuine. Here, Mark shows leaders choosing “We do not know” because a truthful answer would expose them. Agnosticism can become strategic when certainty feels inconvenient.
Understanding Does Not Guarantee Submission.
After the parable, they know Jesus has spoken against them. Increased clarity produces greater opposition rather than repentance.
Questions Have a Direction.
Serious investigation should remain open to being changed by what it discovers. Jesus confronts the use of questions as an endless defense against the authority one is supposedly examining.
Tomorrow, move from investigation to an honest response to the rejected cornerstone.
Renungkan ini.
Which assumption does Jesus confront in you?
Examine your assumptions
Examine whether your questions are still seeking truth or have become a way to avoid a conclusion.